berlipat-lipat puisi tentang budaya
Assalammualaikum sobat blogger kembali ramadan menanti. Aku rangkai pahit manis otakku menemukan berbait karya sastra. Aku hanya manusia biasa banyak kekurangannya. Semoga beberapa puisiku bisa dijadikan sebuah inspirasi dan sobat blogger bisa mengambil amanatnya.
Selimut Dialekku
Nak... anakku...
Nak... anakku...
Gulung senar lenggongmu nak...
Tapis kempulmu
Giring jari-jarimu nak...
Titihkan dialek merah putihmu
Sinar gamma menjemputmu
Nduk... sindukku...
Nduk... sindukku...
Lilitlah nohtah canting-cantingmu
Tebar benih malammu
Tarik cahaya napasmu
Kait dalam-dalam nadimu
Kala, ya kala itu...
Uap satelit
Meteor
Uranus
Neptunus
Mampir disetapak anakku
Desah doaku, moga merangkulmu
Dalam menitih canting-canting ilmu
Anak dan sindukku
Nitih lapak pancaranmu
Nak... nduk... sinduk... nak...
Revolusi Rumbai
Dahan kotaku, tudung duniaku
Mengukir jalannya fajar
Kala gelitik rumbai
Gemulai jari
Putar-putar besi
Kini beku penuh debu
Nang... ning... nong...
Dengung candi-candiku
Kekal dalam bingkai
Bang... bing... bung...
Bang... bing... bung...
Kala aku goyang
Rumbai-rumbai datang
Turut adu cabut batu
Prak... prak... prak...
Kala fajar engkau sentil
Engkau selam reliefku
Engkau tendang rumbaiku
Engkau renggut batuku
Aku pilu, hatiku keruh
Sinar-X genggam jemariku
Satelit dan meteor, menghujani surgaku
Anak Padiku
Anak padiku putih berseri
Mulai jelajah mentari
Tendang kelabu tuk gapit kendang-kendang
Kempul kait dialek biru
Hening mengapung
Dalam sebrang palung
Palung engkau bendung
Benihku engkau kurung
Bong... bong... bong...
Anak padiku terapung sengit
Langkah keningnya
Bajinya, rayunya
Pada garis relung
Biku-biku semu
Mencakar-cakar palung
Bius relung tuk jemput kempul
Bang... bing... bong...
Tidak ada komentar